بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
««•»»
bismi allaahi alrrahmaani alrrahiimi
««•»»
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
««•»»
In the Name of Allah, the All-beneficent, the All-merciful.
««•»»
Surah Al A'laa 1
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
««•»»
sabbihi isma rabbika al-a'laa
««•»»
Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi,
««•»»
Celebrate the Name of your Lord, the Most Exalted,
««•»»
Allah memerintahkan Rasul-Nya agar menyucikan nama-Nya dari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kebesaran serta kemuliaan zat dan sifat-Nya, maka tidak diucapkan nama-Nya selain untuk memuji-Nya, tidak boleh sesuatu dinamai dengan nama-Nya. Maha Sucilah Allah Yang Maha Tinggi.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR AL AZHAR
OLEH BUYA HAMKA
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Ucapkan kesucian bagi nama Allah, Tuhan sarwa sekalian alam, itulah yang disebut tasbih. Dia diungkapkan di dalam salah satu dzikir, yaitu Subhanallah!
Langit dan bumi pun mengucapkan kesucian bagi Allah. Dan itu dapat kita rasakan apabila sebagai insan kita tegak dengan sadar ke tengah-tengah alam yang di keliling kita ini. Siapa menjadikan ini semua dan siapa yang mengatur.
Disebutkan di ujung ayat salah satu sifat Tuhan, yaitu Al-A’laa. Artinya Yang Maha Tinggi, tinggi sekali, puncak yang di atas sekali dan tidak ada yang di atasnya lagi.
Ucapan tasbih itu adalah pupuk bagi Tauhid yang telah kita tanam dalam jiwa kita. Allah itu suci daripada apa yang dikatakan oleh setengah manusia. Mereka pun memuji Allah tetapi tidak bertasbih kepada Allah. Sebab Allah itu dikatakannya beranak. Ada yang mengatakan Allah itu beranak laki-laki seorang, yaitu anaknya yang tunggal. Itulah Isa Almasih anak Maryam dan bertiga dia menjadi Tuhan. Yang seorang lagi ialah Ruhul-Qudus atau Roh Suci. Padahal itu adalah Malaikat Jibril, bukan Tuhan. Bagi mereka Allah itu tidak Maha Tinggi sendiri-Nya, karena ada yang duduk sama rendah tegak sama tinggi dengan dia, yaitu Almasih dan Ruhul-Qudus itu.
Dan ada pula yang mengatakan bahwa Allah itu beranak. Tetapi anaknya perempuan belaka. Itulah Al-Laata, ‘Uzza dan Manaata yang besar. Ada pula yang mengatakan bahwa sekalian malaikat itu adalah anak Allah. Dan ada pula yang mengatakan bahwa banyak yang lain yang bersekutu dengan Allah itu. Sebab dia tidak berkuasa, tidak berupaya mengatur alam ini dengan sendiri.
Selalulah kita hendaknya bertasbih, mengucapkan kesucian bagi nama Allah, Yang Maha Tinggi itu. Sampai seketika ayat pertama ini diturunkan, Nabi kita bersabda:
“Jadikanlah dia dalam sujud kamu”
Dan seketika turun ayat 95 dan 96, Surat 56 (Al-Waqi’ah) yang berbunyi:
“Sesungguhnya ini, adalah dia sebenar-benar yakin. Maka ucapkanlah kesucian atas nama Tuhan engkau Yang Maha Agung.”
Maka bersabdalah Rasulullah SAW:
“Jadikanlah dia dalam ruku’mu”
Demikianlah asal mula bacaan ruku’ dan sujud yang berbunyi demikian:
“Amat Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi” (Waktu sujud) dan Yang Maha Agung (di waktu ruku’), lalu ditambahi dengan wa bi hamdihi :
“Dan disertai puji-pujian bagi-Nya.”
Itu pun adalah pelaksanaan daripada ayat 48 dan 49 dari Surat 52, Ath-Thuur:
“Dan ucapkanlah kesucian dengan memuji kepada Tuhan engkau seketika engkau berdiri sembahyang; dan daripada malam, maka ucapkan jualah kesucian untuk-Nya, dan seketika bintang-bintang mulai pudar cahayanya.” (Subuh).
Mengapa maka kita ucapkan kesucian bagi Tuhan kita?
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Sucikanlah nama Rabbmu) maksudnya sucikanlah Dia dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya lafal Ismu adalah lafal Za'id (Yang Maha Tinggi) lafal Al-A'laa berkedudukan sebagai kata sifat bagi lafal Rabbika.
««•»»
Glorify the Name of your Lord, that is, exalt your Lord above what does not befit Him (ism [in isma rabbika, ‘the Name of your Lord’] is extra), the Most High (an adjective qualifying rabbika, ‘your Lord’),
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
««•»»
sabbihi isma rabbika al-a'laa
««•»»
Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi,
««•»»
Celebrate the Name of your Lord, the Most Exalted,
««•»»
Allah memerintahkan Rasul-Nya agar menyucikan nama-Nya dari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kebesaran serta kemuliaan zat dan sifat-Nya, maka tidak diucapkan nama-Nya selain untuk memuji-Nya, tidak boleh sesuatu dinamai dengan nama-Nya. Maha Sucilah Allah Yang Maha Tinggi.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR AL AZHAR
OLEH BUYA HAMKA
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Ucapkan kesucian bagi nama Allah, Tuhan sarwa sekalian alam, itulah yang disebut tasbih. Dia diungkapkan di dalam salah satu dzikir, yaitu Subhanallah!
Langit dan bumi pun mengucapkan kesucian bagi Allah. Dan itu dapat kita rasakan apabila sebagai insan kita tegak dengan sadar ke tengah-tengah alam yang di keliling kita ini. Siapa menjadikan ini semua dan siapa yang mengatur.
Disebutkan di ujung ayat salah satu sifat Tuhan, yaitu Al-A’laa. Artinya Yang Maha Tinggi, tinggi sekali, puncak yang di atas sekali dan tidak ada yang di atasnya lagi.
Ucapan tasbih itu adalah pupuk bagi Tauhid yang telah kita tanam dalam jiwa kita. Allah itu suci daripada apa yang dikatakan oleh setengah manusia. Mereka pun memuji Allah tetapi tidak bertasbih kepada Allah. Sebab Allah itu dikatakannya beranak. Ada yang mengatakan Allah itu beranak laki-laki seorang, yaitu anaknya yang tunggal. Itulah Isa Almasih anak Maryam dan bertiga dia menjadi Tuhan. Yang seorang lagi ialah Ruhul-Qudus atau Roh Suci. Padahal itu adalah Malaikat Jibril, bukan Tuhan. Bagi mereka Allah itu tidak Maha Tinggi sendiri-Nya, karena ada yang duduk sama rendah tegak sama tinggi dengan dia, yaitu Almasih dan Ruhul-Qudus itu.
Dan ada pula yang mengatakan bahwa Allah itu beranak. Tetapi anaknya perempuan belaka. Itulah Al-Laata, ‘Uzza dan Manaata yang besar. Ada pula yang mengatakan bahwa sekalian malaikat itu adalah anak Allah. Dan ada pula yang mengatakan bahwa banyak yang lain yang bersekutu dengan Allah itu. Sebab dia tidak berkuasa, tidak berupaya mengatur alam ini dengan sendiri.
Selalulah kita hendaknya bertasbih, mengucapkan kesucian bagi nama Allah, Yang Maha Tinggi itu. Sampai seketika ayat pertama ini diturunkan, Nabi kita bersabda:
“Jadikanlah dia dalam sujud kamu”
Dan seketika turun ayat 95 dan 96, Surat 56 (Al-Waqi’ah) yang berbunyi:
“Sesungguhnya ini, adalah dia sebenar-benar yakin. Maka ucapkanlah kesucian atas nama Tuhan engkau Yang Maha Agung.”
Maka bersabdalah Rasulullah SAW:
“Jadikanlah dia dalam ruku’mu”
Demikianlah asal mula bacaan ruku’ dan sujud yang berbunyi demikian:
“Amat Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi” (Waktu sujud) dan Yang Maha Agung (di waktu ruku’), lalu ditambahi dengan wa bi hamdihi :
“Dan disertai puji-pujian bagi-Nya.”
Itu pun adalah pelaksanaan daripada ayat 48 dan 49 dari Surat 52, Ath-Thuur:
“Dan ucapkanlah kesucian dengan memuji kepada Tuhan engkau seketika engkau berdiri sembahyang; dan daripada malam, maka ucapkan jualah kesucian untuk-Nya, dan seketika bintang-bintang mulai pudar cahayanya.” (Subuh).
Mengapa maka kita ucapkan kesucian bagi Tuhan kita?
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Sucikanlah nama Rabbmu) maksudnya sucikanlah Dia dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya lafal Ismu adalah lafal Za'id (Yang Maha Tinggi) lafal Al-A'laa berkedudukan sebagai kata sifat bagi lafal Rabbika.
««•»»
Glorify the Name of your Lord, that is, exalt your Lord above what does not befit Him (ism [in isma rabbika, ‘the Name of your Lord’] is extra), the Most High (an adjective qualifying rabbika, ‘your Lord’),
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 2]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
1of19
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=87&tAyahNo=1&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#87:1
•[AYAT 2]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
1of19
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=87&tAyahNo=1&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#87:1


Tidak ada komentar:
Posting Komentar